
IHSG berakhir dengan penguatan di angka 6254, dan posisi rupiah tetap stabil
Indonesia, Perssilam - Pasar saham Indonesia menunjukkan kekuatan besar saat ini. IHSG naik tajam sebesar 247,3 poin atau 4,12 persen. Data dari Investor Daily mencatat indeks tutup di level 6.254,9 pada Senin, 15 Juni 2026. Kenaikan ini terjadi saat banyak tekanan dari luar negeri menghantam pasar global. Kondisi ini didukung oleh nilai tukar rupiah yang stabil. Rupiah bertahan di level Rp 17.725 per dolar AS. Bank Indonesia mengambil peran penting dengan langkah stabilisasi yang agresif. Kebijakan ini menjaga mata uang Garuda tetap aman di zona hijau. Perpaduan antara indeks saham yang naik dan rupiah yang stabil memberi harapan baru bagi investor.BACA JUGA: Pengemudi ojek online tetap menggunakan pertalite sebagai dampak dari kenaikan harga pertamax
Kondisi pasar saat ini masih punya ruang untuk tumbuh. Reyhan Pratama, Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas, melihat tren positif ini akan berlanjut. Ia memprediksi IHSG bisa mencapai area 6.700 dalam beberapa bulan ke depan. Namun, ia mengingatkan investor untuk tidak ceroboh. Kenaikan harga yang terlalu cepat sering memicu aksi ambil untung. Penurunan kecil dalam waktu dekat adalah hal yang wajar. Hal ini disebut konsolidasi, yaitu masa di mana harga saham beristirahat sebelum naik lagi. Reyhan menyebut level 6.000 sebagai resistance psikologis. Artinya, banyak investor akan cenderung menjual saham saat harga menyentuh angka tersebut. Di sisi lain, ada level support kuat di 5.512. Selama indeks tidak jatuh di bawah angka itu, pasar masih dalam jalur penguatan.
Untuk pilihan saham, Reyhan menyarankan sektor komoditas. Sektor ini menarik karena sangat terpengaruh oleh dinamika harga barang dunia. Sementara itu, ia menyarankan investor lebih hati-hati pada sektor perbankan. SahMasalah pasar sebelumnya bukan karena ekonomi makro yang rusak. Hendry Wijaya, Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, menilai koreksi kemarin terjadi karena krisis kepercayaan. Para pemodal sempat takut soal penurunan rating Indonesia dan posisi Indonesia di indeks global. Hal ini membuat mereka menarik dana keluar dari pasar domestik. Kini, indikator ekonomi mulai membaik. Kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia terbukti efektif melindungi rupiah. Selain itu, pemerintah tetap disiplin dalam mengelola anggaran negara atau fiskal. Harga saham saat ini juga sudah mencerminkan risiko yang ada. Investor kini memantau yield SBN dan aliran dana asing untuk melihat arah pasar selanjutnya.
Sucor Sekuritas terus mendorong edukasi bagi para pemodal. Tujuannya agar investor bisa mengambil keputusan berdasarkan data, bukan rasa takut. CEO Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, mengingatkan bahwa pasar modal selalu bergerak dalam siklus. Harga akan naik dan turun secara bergantian. Oleh karena itu, investor butuh pendampingan untuk mengelola risiko dan tetap disiplin dalam berinvestasi.am bank besar sudah naik terlalu tinggi, sehingga ruang pertumbuhannya menjadi lebih terbatas.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Reaksi :
Artikel Terkait






