Musi Rawas, Perssilam News - Nilai pasar Amazon.com Inc. resmi menembus US$3 triliun atau sekitar Rp54,06 kuadriliun untuk pertama kalinya pada perdagangan 4 Agustus 2026. Pencapaian tersebut menjadi salah satu tonggak terbesar dalam sejarah perusahaan. Berdasarkan laporan Bloombergtechnoz, Amazon menjadi perusahaan kelima di dunia yang berhasil mencapai nilai pasar itu. Kapitalisasi pasar adalah jumlah nilai seluruh saham perusahaan yang beredar. Angka ini dihitung dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang tersedia di pasar. Karena itu, nilai pasar Amazon dapat berubah setiap hari mengikuti pergerakan harga sahamnya. Angka US$3 triliun juga bukan berarti Amazon memiliki uang tunai sebesar itu, melainkan menunjukkan total nilai perusahaan menurut penilaian investor di bursa. Saham Amazon naik 5,3% pada pukul 09.35 waktu Amerika Serikat. Kenaikan tersebut mendorong kapitalisasi pasar perusahaan melewati batas US$3 triliun. Penguatan saham berlanjut setelah Amazon menerbitkan laporan kinerja kuartal kedua dengan hasil yang lebih baik dari perkiraan pasar, terutama dari divisi komputasi awan Amazon Web Services atau AWS.
Advertising
AWS menyediakan layanan seperti penyimpanan data, pusat data virtual, perangkat lunak perusahaan, serta layanan yang mendukung pengembangan kecerdasan buatan. Divisi ini menjadi salah satu sumber pendapatan dan laba paling penting bagi Amazon. Saat pertumbuhan AWS meningkat, investor melihat adanya peluang bahwa perusahaan mampu membiayai belanja teknologi tanpa terlalu menekan hasil keuangan. Peningkatan kinerja AWS juga membantu meredakan kekhawatiran terkait belanja Amazon untuk kecerdasan buatan. Dalam beberapa kuartal terakhir, Amazon mengeluarkan dana besar untuk pusat data, chip, jaringan, dan infrastruktur lain yang dibutuhkan oleh layanan AI. Pengeluaran tersebut sempat membuat investor khawatir karena manfaatnya belum langsung terlihat dalam laporan keuangan. Kekhawatiran itu kemudian memicu tekanan pada saham Amazon. Sebelumnya, harga saham perusahaan turun hingga 18% dari rekor yang tercatat pada 6 Mei. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak hanya menilai pertumbuhan pendapatan, tetapi juga memperhatikan biaya yang harus dikeluarkan Amazon untuk menjaga laju ekspansi AWS dan layanan AI. Laporan terbaru mengubah pandangan tersebut. Pendapatan AWS tumbuh dengan laju tertinggi sejak 2021. Kabar itu mendorong saham Amazon naik lebih dari 15% pada pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut mengembalikan Amazon ke posisi teratas di antara sejumlah saham teknologi unggulan yang menjadi perhatian investor. Dengan nilai pasar US$3 triliun, Amazon kini bergabung dengan kelompok perusahaan raksasa yang telah mencapai tingkat serupa. Kelompok tersebut terdiri atas Nvidia Corp., Alphabet Inc., Microsoft Corp., dan Apple Inc. Keberadaan lima perusahaan itu menunjukkan besarnya peran bisnis teknologi, komputasi awan, chip, perangkat lunak, dan layanan digital dalam pasar saham global. Amazon mencapai batas US$3 triliun dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan saat perusahaan menggandakan nilai pasarnya pada periode sebelumnya. Amazon menembus US$2 triliun pada Juni 2024. Artinya, perusahaan hanya membutuhkan waktu sedikit lebih dari dua tahun untuk menambah US$1 triliun pada kapitalisasi pasarnya. Sebagai perbandingan, Amazon membutuhkan lebih dari enam tahun untuk bergerak dari nilai pasar US$1 triliun ke US$2 triliun. Perbedaan waktu tersebut menunjukkan betapa cepatnya investor menaikkan penilaian terhadap Amazon dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan AWS dan minat pasar terhadap AI menjadi dua faktor yang banyak diperhatikan dalam penilaian itu.
Advertising
Rasio Valuasi dan Prospek Pasar
Walaupun saham Amazon sudah mengalami kenaikan tajam, valuasinya masih dinilai menarik jika dibandingkan dengan catatan historis. Saham tersebut diperdagangkan pada rasio price-to-earnings atau P/E sekitar 25 kali berdasarkan proyeksi laba selama 12 bulan mendatang. Rasio P/E membandingkan harga saham dengan laba per saham. Angka yang lebih rendah biasanya menunjukkan harga saham yang lebih murah terhadap laba yang diperkirakan. Rasio P/E Amazon saat ini tercatat sekitar 44% lebih rendah dibandingkan rata-rata selama satu dekade terakhir. Kondisi tersebut membuat sebagian investor menilai saham Amazon masih memiliki ruang untuk tumbuh, meski harga saham telah meningkat dalam waktu singkat. Penilaian itu tetap bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan laba dan pendapatan.
Analis Wall Street memperkirakan saham Amazon masih dapat tumbuh sekitar 14% sepanjang 2026. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh harapan terhadap pertumbuhan AWS, peningkatan permintaan layanan AI, serta perbaikan hasil bisnis ritel Amazon. Namun, belanja modal yang besar tetap menjadi faktor yang akan diperhatikan pasar dalam laporan keuangan berikutnya. Amazon perlu menunjukkan bahwa investasi pada pusat data dan teknologi AI mampu menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi. Investor juga akan mengamati margin laba, arus kas, serta pertumbuhan pelanggan AWS. Jika pendapatan AWS terus meningkat dengan biaya yang dapat dikendalikan, kepercayaan pasar terhadap strategi Amazon dapat bertahan. Pencapaian US$3 triliun memberi Amazon posisi yang lebih kuat di antara perusahaan teknologi terbesar dunia. Kinerja saham selanjutnya akan bergantung pada hasil nyata dari investasi AI dan kemampuan AWS mempertahankan pertumbuhannya. Bagi pasar, laporan kuartal kedua menjadi bukti awal bahwa belanja besar tersebut mulai mendapat dukungan dari peningkatan pendapatan komputasi awan.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Reaksi :
Artikel Terkait






