
Shopee menghentikan ratusan pengembang untuk fokus teknologi AI
Indonesia, Perssilam - Platform belanja Shopee memecat ratusan pengembang di banyak wilayah operasional pekan ini. Keputusan ini terjadi karena perusahaan ingin fokus pada teknologi kecerdasan artifisial atau AI. Berita mengenai efisiensi struktur anak usaha Sea Ltd ini muncul di Investor Daily pada Rabu 10 Juni 2026. Pemotongan jumlah staf ini menyasar sekitar 8 persen dari total pengembang di Shopee. Posisi jaminan kualitas atau quality assurance menjadi bagian yang paling banyak kehilangan pekerjaan. Tim QA bertugas mengecek bug dan memastikan aplikasi berjalan lancar sebelum sampai ke pengguna. Shopee memberi sinyal bahwa pengurangan jumlah karyawan bisa terjadi lagi nanti.Langkah ini mengikuti tren global di sektor teknologi. Banyak perusahaan kini memasukkan AI untuk membuat kerja kantor lebih cepat dan murah. Mereka ingin mengurangi jumlah orang setelah merekrut terlalu banyak staf saat pandemi lalu. CEO Sea Ltd Forrest Li ingin perusahaan mencapai nilai pasar satu triliun dolar. Dia percaya cara mencapainya adalah dengan mengoptimalkan AI. Strategi ini dilakukan karena persaingan bisnis inti makin keras. Shopee mencoba mengikuti langkah kompetitor besar seperti Alibaba Group.
Manajemen menyebut penyesuaian jumlah staf adalah hasil tinjauan berkala. Perusahaan rutin mengecek kebutuhan tenaga kerja mereka setiap waktu. Juru bicara Sea Ltd mengatakan keputusan ini diambil setelah pertimbangan matang. Mereka berjanji akan membantu karyawan yang terdampak selama masa transisi. Sea Ltd juga sedang mencari sumber uang baru selain dari e-commerce. Salah satunya adalah melalui platform gim Garena. Pada Februari lalu, mereka bekerja sama dengan Google. Kerja sama ini bertujuan memasukkan AI ke dalam operasional harian. Mereka juga sedang membuat agen belanja berbasis AI yang bisa membantu pembeli secara otomatis.
BACA JUGA: Dalam waktu dua minggu, Amerika Serikat akan mengumumkan kemenangan total atas Iran, kata Trump
Harga saham Sea Ltd sudah tertekan sejak September 2025. Hal ini terjadi karena biaya operasional yang membengkak. Selain itu, minat belanja konsumen juga mulai menurun. Analis melihat industri teknologi global sedang dalam fase koreksi. Perusahaan kini lebih memilih sistem otomatis daripada menambah jumlah karyawan.
Editor: Redaktur Perssilam Silampari News
(Perssilam Silampari News berbagai sumber)
Berita dan Artikel lainnya di :
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Tags :
Reaksi :
Artikel Terkait






